Senin, 01 Februari 2010

Hubungan Sunda-Galuh


Sanjaya sebelum memenuhi panggilan Sena, ayahnya untuk menjadi raja di Medang, ia mengambil inisiatif untuk melakukan musyawarah di Purasaba Galuh, dihadiri oleh anggota kerabat kerajaan. Pada saat itu ia dianggap paling berkuasa di Pulau Jawa, sebab Kalingga sudah setengah menjadi bawahannya, sedangkan Demunawan yang memerdekakan dirinya di jamin oleh Sanjaya. Semua ia lakukan untuk menunjukan rasa hormatnya kepada Sena, ayahnya.

Musyawarah tersebut menetapkan, antara lain :
Daerah sebelah barat Citarum sampai keujung kulon menjadi hak waris keturunan Tarusbawa ;
Daerah sebelah timur Citarum termasuk Jawa Pawatan dibagi dua antara Tamperan yang menguasai bagian selatan dan Demunawan yang menguasai bagian utara, termasuk bekas Galunggung dan Saung Galah ;
Bagian tengah akan tetap diperintah oleh Sanjaya dan menjadi hak waris keturunan Galuh – Kalingga ;
Daerah sebelah timur bagian utara Kali Progo menjadi bagian Prabu Narayana dan keturunan dari keluarga Kalingga.

Semula Galuh diserahkan kepada Premana, namun Premana lebih memilih untuk menjadi pertapa sehingga pada akhirnya dijalankan oleh Tamperan, demikian pula Sunda. Sanjaya sejak 732 M di kerajaan Sunda digantikan oleh Tamperan.

Riwayat kekuasaan Tamperan di Galuh terganggu oleh masalah Dewi Pangrenyep. Masalah ini menjadi masa kelam bagi hubungan Sunda – Galuh dan keturunan selanjutnya. Hal ini memicu pula kemarahan Sanjaya untuk kembali menguasai Galuh. (Selanjutnya dalam uraian tentang Galuh).

Sunda menjadi bawahan Galuh
Membahas raja-raja Sunda tentunya agak sulit dilepaskan dari cerita Galuh. Hal ini bukan hanya awalnya berasal dari Tarumanagara, namun akibat hubungan perkawinan dan pewaris dari kerajaan kembar tersebut maka banyak raja Sunda yang sekaligus bertahta sebagai raja Galuh.

Perbedaan Sunda – Galuh disebut-sebut berakhir pada masa Rakean Wuwus. Hal ini akibat dari pencampuran perkawinan antara turunan Banga dan Manarah. Sunda – Galu benar-benar dianggap bersatu disinyalir sejak masa abad 13 M. Bahkan pada abad ke – 14 sebutan untuk Sunda – Galuh menjadi tunggal, yakni Sunda.

Kisah Tamperan, penggant Sanjaya di Sunda dikisahkan pula dalam alur cerita Galuh. Tamperan disebut-sebut sebagai pemegang tahta Kerajaan Sunda ketiga. Ia putra Sanjaya dari Tejakencana, cucu dari Tarusbawa.

Tamperan menggantikan ayahnya karena Sanjaya dipanggil Sena, ayahnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja Medang di Bumi Mataram. Tamperan disebut-sebut memerintah Sunda sejak tahun 732 M – 739 M. Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa sebenarnya Tamperan tidak pernah menjadi Raja Sunda, karena raja Sunda masih tetap Sanjaya. Tamperan hanya memegang jabatan Duta Patih Sunda di Galuh, berdomisili di Purasaba Galuh.

Tamperan didalam Carita Parahyangan dan berita Nusantara III dianggap memiliki tabiat yang kurang baik. Diberitakan mengganggu Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah, hingga melahirkan Banga. Ia pun disebut-sebut membunuh Permana Dikusumah. Dari akumulasi perbuatannya ia dibunuh Sang Manarah, anak Premana Dikusumah.

Kisah perilaku dan masa kepemimpinan Tamperan diceritakan didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala.
Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga.
Sang manarah males pati.
Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.
Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.
Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.
Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge.

Setelah wafatnya Tamperan (739 M) Galuh digantikan Manarah, sedangkan Banga, anak Tamperan menggantikan posisinya di Sunda. Namun berdasarkan Perjanjian Galuh posisi Sunda berada dibawah kontrol Manarah dari Galuh.

Perjanjian Galuh sebenarnya merupakan upaya dari para Keturunan Wretikandayun, pendiri Galuh untuk menyudahi perseteruan. Ketika itu pasukan Manarah dengan pasukan Sanjaya sudah saling berhadapan untuk saling berperang. Masalhj ini dipicu oleh terbunuhnya Tamperan di Galuh oleh Manarah. Namun berkat peran Resi Demunawan mereka mau berunding di Kraton Galuh.

Isi Perjanjian Galuh tersebut sebagai berikut :
Menyudahi permusuhan diantara yang sedang berperang dan melakukan persahabatan dan kerjasama. Tidak boleh mengadakan pembalasan, karena mereka masih satu keturunan. Bila timbul perselisihan harus diselesaikan dengan damai.
Prajurit yang ditawan harus dilepaskan. Tidak boleh saling menyerah dan merebut kota masing-masing.
Menghormati ahli waris yang syah, yaitu :
Negeri Sunda dirajai oleh Sang Kamarasa alias Banga dengan gelar Prabu kertabuana Yasawiguna Ajimulya.
Negeri Galuh dengan wilayah Citarum kearah timur dirajai oleh Sang Suratoma alias Manarah dengan Gelar Prabu Jaya Perkosa Mandaleswara Salabuana.
Resi Demunawan membawahi Saunggalah dan bekas Galunggung dan Sanjaya di Jawatengah.

Untuk mengukuhkan persaudaraan diatas kemudian Resi Demunawan menjodohkan cucunya yakni Kencana Wangi dengan Manarah, sedangkan Kencana Sari dinikahkan Banga. Dengan pernikahan ini maka berbaurlah darah Sunda, Galuh dan Saunggalah. Dan mengembalikan kemabli Wretikandayun. Kelak perbedaan keturunan ini terhapuskan akibat perkawinan antara keturunan Manarah dan Banga. Hal ini terjadi pada masa Rakean Wuwus.

Berdasarkan buku sejarah Jawa Barat kerajaan Sunda pernah berada dibawah control Galuh terhitung sejak adanya perjanjian Galuh, yakni tahun 739 M sampai dengan 759 M.

Sunda Merdeka
Banga menggantikan Tamperan sebagai Raja Sunda keempat sejak tahun 739 M sampai dengan 766 M. Namun ada juga pendapat bahwa Banga raja Kerajaan Sunda yang ketiga karena Tamperan sebenarnya tidak pernah berdomisili di Sunda, ia hanya menjabat sebagai Duta Patih Sunda di Galuh.

Akibat Perjajian Galuh terpaksa kedudukan Banga harus berada dibawah Galuh. Perjanjian ini dirasakan Banga sangat merugikan posisinya. Posisi ini kebalikan ketika Sanjaya dapat merebut tahta Galuh dari Purbasora. Sanjaya sebagai kakeknya Banga tentu merasa kurang senang melihat kedudukan Banga yang dirugikan ini dengan posisi ini, namun ia harus mentaati perjanjian tersebut. Kemudian ia secara diam-diam menganjurkan Banga untuk memperkuat kerajaan Sunda.

Banga melaksanakan ide kakeknya, setahap demi setahap ia menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disebelah barat Citarum, hingga iapun menjadi raja Sunda yang kuat. Pada tahun 759 M Bangga melepaskan diri dari bawahan Galuh. Dan menyatakan kerajaan Sunda sebagai kerajaan Mahardika.

Tindakan Banga tersebut tentunya menyulut kemarahan Manarah. Sekali lagi lagi Resi Demunawan, Raja Saunggalah turun tangan untuk membantu menyelesaikan. Demunawan kemudian membujuk Manarah agar menerima posisi ini. Demunawan pun meyakinkan Manarah bahwa sepantasnyalah kedudukan Sunda dan Galuh sejajar, masing-masing berdiri sebagai Negara yang merdeka.

Peristiwa ini menempatkan Resi Demunawan sebagai orang yang bijaksana dan memiliki visi yang baik. Resi Demunawan pada Perjanjian Galuh menempatkan Sunda di bawah Galuh. Hal tersebut merupakan upaya maksimal pada saat itu. Setelah keadaan memungkinkan ia memenuhi janjinya untuk mensejajarkan Sunda dengan Galuh sehingga dapat tercipta kerukunan yang abadi.

Bangga meninggal pada tahun 766 M, berumur masih relatif masih muda, yakni 42 tahun. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, ia dilahirkan pada tahun 724 M, sehingga ketika ia memegang tahta Sunda baru berumur 15 tahun. Mungkin juga pada saat perjanjian Galuh Sanjaya dan Demunawan memutuskan agar Banga menjadi raja Sunda dibawah Galuh karena umurnya yang masih dianggap terlalu muda, sehingga Manarah diposisikan sebagai wali-nya. Namun rupanya para sejarawan tidak melihat adanya spekulasi kearah sana, mengingat hubungan Sunda dan Galuh pada waktu itu sangat menajam.

Dari hubungan yang yang rumit ini pada akhirnya hanya menarik benang merah, bahwa ada yang bertikai antara pihak Manarah dan pihak Sanjaya, termasuk Banga. Maka wajar jika masalah umur tidak dijadikan bahan penelitian.

Perpaduan Sunda dan Galuh
Sebagai bukti untuk mempererat hubungan Sunda dan Galuh, wujud niat baik dari adanya Perjanjian Galuh, Resi Demunawan dari Saung Galah menjodohkan cucunya yakni Kencana Wangi dengan Manarah, sedangkan Kencana Sari dengan Banga. Dengan pernikahan ini maka berbaurlah darah Sunda, Galuh dan Saunggalah. Sekalipun semula mereka dari keturunan yang sama, yakni Wretikandayun.

Kerajaan Sunda dengan Galuh pasca Banga hidup sejajar dan berdampingan, masing-masing menjadi Negara yang merdeka. Namun dari alur kesejarahan Galuh, Manarah dan keturunannya sangat sulit mendapatkan putra Mahkota dari anak laki-laki, sehingga beberapa tahta Galuh diserahkan kepada menantunya. Sehingga pada setelah wafatnya Prabu Langlangbumi pada tahun 852 Galuh dipegang oleh Rakeyan Wuwus, keturunan Banga.

Banga mempunyai putera bernama Rakryan Medang, menjadi raja Sunda selama 17 tahun (766-783 M) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi, dari Galuh, putera Sang Manisri, Ia menjadi Raja Sunda selama 12 tahun (783-795). Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus, bergelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara, ia berkuasa selama 24 tahun (795-819 M).

Sepeninggal Rakryan Diwus kekuasaan Sunda diteruskan oleh puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan, raja Galuh yang berkuasa pada tahun 806-813 M. Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Sejak saat itu Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakyan Wuwus, dengan gelar Prabhu Gajahkulon.

Rakeyan Wuwus wafat pada tahun 891 M, digantikan oleh Prabu Darmaraksa adik dari permaisuri Rakeyan Wuwus, keduanya adik Prabu Langlangbumi dari Galuh. Kesungguhan untuk menyatukan Sunda dan Galuh dibuktikan pula dengan melakukan perkawinan.

Rakeyan Wuwus menikahi kakak dari Darmaraksa sedangkan Darmaraksa menikahi adik dari Rakeyan Wuwus. Namun percampuran ini masih terjadi ditingkat Raja, karena masih ada Mentri Sunda yang fanatik. Ia tidak mau jika Sunda diperintah kembali oleh Galuh, sehinga pada tahun 895 M ia membunuh Prabu Darmaraksa.

Sepeninggalnya Prabu Dharmaraksa dari Galuh yang kemudian menjadi Raja Sunda Ke-9, tahta Sunda ke-10 diwariskan kepada Prabu Windu Sakti, putra Prabu Darmaraksa. Selang dari peristiwa tersebut, suksesi berjalan secara alamiah, berturut-turut digantikan oleh Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916) ; Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942) ; Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954) ; Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964) ; Munding Ganawirya (964 - 973) ; Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989) ; Brajawisésa (989 - 1012) ; Déwa Sanghyang (1012 - 1019) dan Sanghyang Ageng (1019 - 1030).

Pada masa raja-raja diatas seolah-olah Sunda kehilangan catatan sejarah, kemudian muncul kembali pada Masa Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja, raja Sunda ke-20 dari alur Tarusbawa. Hal ini diungkapkan setelah Pleyte (1905 M) menemukan prasasti Cibadak – Sukabumi.

Sejarah Sunda mungkin disini agak keluar jalurnya, karena ternyata Rakeyan Wuwus tidak memiliki putra mahkota sehingga tahta Sunda diwariskan kepada putra Prabu Darmaraksa, yakni Prabu Windusakti atau Prabu Dewageung (895 – 913 M).

Menurut para akhli sejarah sebagaimana ditulis dalam rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat dan Saleh Danasasmita, Sunda dan Galuh memiliki entitas yang mandiri, perbedaan tradisi yang mendasar.

Menurut Prof. Anwas Adiwilaga : Urang Galuh adalah Urang Cai sedangkan Urang Sunda disebut sebagai Urang Gunung. Mayat Urang Galuh ditereb atau dilarung, sedangkan mayat Urang Sunda dikurebkeun.

Perbedaan tradisi Sunda dan Galuh mungkin pada waktu itu dianggap menghambat hubungan keduanya. Urang Galuh merasa kurang nyaman jika dipimpin keturunan Sunda, demikian pula sebaliknya. Upaya menyatukan pernah dilakukan melalui perpaduan atau perkawinan dikalangan para raja dan keluarganya.

Misalnya perkawinan keturunan Manarah (Galuh) dengan Banga (Sunda), bahkan dikarenakan Manarah tidak memiliki keturunan laki-laki, maka keturunan Bangga, Rakeyan Wuwus, yang ditikahkan dengan adik Prabu Langlangbumi diangkat menjadi Raja Galuh. Peristiwa ini menandakan adanya perpaduan keturunan Manarah dan Banga. Namun penyatuan tradisi tersebut diperkirakan baru tercapai pada abad ke-13, dengan mengistilahkan penduduk dibagian barat dan timur Citarum (citarum = batas alam Sunda dan Galuh) dengan sebutan urang sunda.

Diyakini diantara kedua leluhur tersebut tidak memiliki rencana dan kesepakatan untuk memilih nama dari gabungan kedua tradisi tersebut, seperti menggunakan nama sunda atau Galuh atau Sunda Galuh. Namun nama sunda sejak abad ke-13 sudah banyak digunakan untuk menyebut Urang Galuh dan Urang Sunda, bahkan sumber-sumberf berita luar sudah banyak menyebut penduduk yang ada di wilayah Jawa Barat dengan istilah Urang Sunda. Mungkin juga Urang Sunda ketika itu dianggap lebih berperan dibandingkan Urang Galuh. Sehingga entitas penduduk di kedua wilayah tersebut disebut Urang Sunda.

Tapi ada juga yang menyebutkan, perbedaan budaya Sunda dan Galuh tidak mendasar, dibandingkan dengan etnis lain. Masalah ini hanya di blow up oleh pihak penjajah, bertujuan agar Urang Sunda dan Urang Galuh tidak bersatu. Walahuallam (**).


Sumber bacaan :
1. rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat (1983-1984).
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh
3. Tjarita Parahyangan - Drs. Atja - Jajasan Kebudayaan Nusalarang (Bandung1968)
4. ‘nalaroza. Wordpress. Com
5. Sumber lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar